FANDOM


Chapter 1 

Apakah kau tahu bahwa Für Elise adalah kumpulan nada tentang rasa yang tak tersampaikan?

–––

Ah, gadis itu datang lagi. Aku sadar bahwa ini bukanlah kenyataan, melainkan proyeksi keinginan yang ia tumpukan padaku. Tatapan matanya sendu dan tak tercapai. Dia tersenyum manis, namun matanya tampak meringis. Langit terasa sangat biru dan awan-awan terpencar, tanah terasa berlapis kaca hingga aku bisa melihat wajahku terpantul di sana. Aku mencoba mengalihkan pandangan dan melarikan diri dari tempat itu, namun dia tetap berdiri di sana dan mengikuti kemana arahku. Namun, sejauh apapun aku berlari, dia akan menemukanku di ujung sana.

Aku menghela napas dan mencoba menahan suaraku yang sudah di ujung tenggorokan, “MAAYA, BISA BERHENTI NGIKUTIN AKU NGGAK SIH?! KAMU KAYAK HANTU GENTAYANGAN!”

“Emang aku hantu kali, Bang Tio suka lupa ih. Hehe.” Gadis itu tertawa renyah seakan-akan aura misterius yang tadi coba dia ciptakan hancur berantakan. Kini yang tersisa adalah perubahannya menjadi gadis yang cute maksimal.

“Balik ke alam barzah sana! Ngapain masih ngikutin aku?” Aku merenggut karena dongkol oleh kemunculannya di mimpiku beberapa hari ini. Kemunculannya melalui mimpi itu selalu berakhir dengan diriku yang bangun kesiangan untuk bersiap ke sekolah dan kena hukuman dari guru olahraga.

“Yeee, sudah kubilang untuk memenuhi permintaan terakhirku! Kenapa sih Bang Tio masih nggak mau juga? Padahal itu ‘kan gampang buat orang kaya—“

“Hah? Gampang dari Hongkong! Menyamar jadi dirimu, lalu masuk sekolah musik supaya bisa mewujudkan mimpi seorang Maaya menjadi pianist terkenal? Lebih baik aku jadi karyawan swasta dibandingkan malu tujuh turunan karena melakukannya.”

“Tapi ‘kan karena kita saudara kembar semua menjadi mungkin dilakukan!”

“Kau lakukan saja sendi—“

Deg.

Raut wajah Maaya berubah drastis, aku mungkin baru saja mengatakan sesuatu yang menyakiti relung hatinya yang paling dalam. Saat itulah aku menyadari bahwa kata-kata lebih menyakitkan dari apapun, rasa sesal muncul karena kata-kata yang kuucapkan barusan. Aku melihat matanya berair namun tertahan oleh bingkai kelopak dan bulu matanya.

Dia mencoba tersenyum hingga gigi putih dan gusi merah mudanya terlihat jelas, berusaha mengatakan sesuatu dengan suara bergetar.

“Hehe, Bang Tio... pasti lupa lagi ya... kalau aku... sudah tiada.”

Bersamaan dengan menghilangnya Maaya, aku mulai terbangun dari mimpi panjangku. Cukup lama aku terbaring di kasur dan tak membuat pergerakan. Aku hanya ingat wajah Maaya sebelum dia menghilang. Wajah sedih seorang adik yang tak pernah punya kesempatan menyelesaikan mimpinya.

"Ah, Aku melukainya lagi."

–––

“Halo cantik, murid baru ya?”

“Minggir.”  Aku berusaha bersikap setenang mungkin untuk menghadapi tiga orang berandalan berwajah pas-pasan di hadapanku. Dilihat dari seragam sepertinya mereka juga siswa dari sekolah musik yang ingin Maaya masuki. Namun kalau dilihat dengan baik, aku mulai meragukan nasibku untuk bersekolah di sana.

“Jangan galak-galak dong, kita nggak bakal makan kamu kok.” Sahut seorang yang lain.

“Aku nggak ada waktu buat mengurusi kalian.”

“Kenalan dulu aja, nanti kalau cocok bisa dibicarakan kok. Nah, namaku Tomy, aku adalah pangeran di sekolah ini. Pecinta wanita yang tampan bin kaya, pengusaha sukses yang tidak butuh orang lemah dan payah! Behahaha. Mereka berdua adalah anak buahku. Di sebelah kiri namanya Ipin, dan kanan namanya Japul. Kami adalah Trio Panjul!”

“BEHAHAHAHA!” Aku mulai melongo melihat mereka bertiga bergaya selaras dan tertawa serempak.

“Namamu siapa cantik?” tanya seorang yang sepertinya bernama Ipin.

Aku terdiam dengan tatapan sinis dan prihatin melihat tiga orang ini. Karena Aku tidak merespon apa yang mereka katakan, Tomy menarik tanganku kemudian berlutut sambil menciuminya perlahan.

“Apa yang kau pikirkan, Princess? Aku akan melepaskan seluruh rasa sakitmu dengan kehangatan cinta yang mur—“

“JUNGLE SAVAAATE!”

BUG BAG BRAK!

“Adoooh, sakit woeee! Lu kira badan gue karung beras!” Tomy memegangi seluruh badannya yang terbanting ke tanah karena seranganku yang kesal olehnya.  Anak buahnya mulai mengerumuni Tomy dan memapahnya untuk berdiri, waktu itu kujadikan kesempatan untuk melarikan diri.

“JANGAN KABUR WOI! DASAR CEWEK PAPAN PENGGILESAN!”

“Tapi dia emang cantik banget, Ketua.” Japul berkata dengan polosnya.

“Iya Ketua, kayak Chels*a I*lan!” Sahut Ipin mengikuti.

“Ya emang cantik Panjul! siapa bilang juga dia jelek, cuma datar aja sih.... Ah!” Tomy memukul kepala Ipin dan Japul. Setelah sadar akan apa yang terjadi, Tomy kemudian berteriak hingga suaranya terdengar satu lapangan.

“TUNGGU SAJA, AKAN KUTAKLUKAN KAU DENGAN CINTAKU! BEHAHAHA!”

TBC-image