FANDOM


Chapter 2 

Nada-nada indah tercipta dari tuts-tuts yang disentuh oleh tangan-tangan penuh luka dan memar. Apakah suara pianoku tersampaikan padamu, Therese?

–––

Tio POV

“Dada papan penggilesan, memang aku tidak punya sejak awal. Kenapa dia genit sekali pada laki-laki?” Aku terus merenggut dalam hati hingga kulihat cerminan diriku di kaca jendela, ada ‘Maaya’ di sana. Saat itu, kesadaran mulai datang dalam diriku. Aku kembali mengingat tentang pilihan yang sudah kuputuskan minggu lalu.

“Ah ya, aku saat ini menyamar menjadi seorang wanita.”

Setelah malam itu, aku merenung panjang untuk memikirkan kembali apa yang diinginkan oleh arwah Maaya. Aku sadar bahwa harapannya bukanlah isapan jempol belaka, dia menghampiriku setiap malam dengan harapan aku bisa mengerti impiannya. Aku menyentuh refleksi wajahku dari batas helaian rambut sejalur dengan arah wajah. Kami terlihat begitu mirip, namun tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan mimpi.

“Kenapa kau harus berharap padaku?”

Dug!

“Aduh—“ Aku meringis kesakitan karena terjatuh ke belakang. Dahiku beradu dengan jendela yang dibuka dengan tiba-tiba dari dalam. Kakiku terjengkang sampai hampir saja pinggangku beradu dengan anak tangga dari lantai tiga, syukurlah aku sempat memegang sisi tangga yang satunya.

“—Woi, nggak lihat apa ada orang di luar?!”

“Waduh mbak, Kirain nggak ada orang di luar. Hahahaha! ” Aku melihat sesosok gadis berambut panjang muncul dari balik jendela itu. Wajah tanpa dosa setelah apa yang dia lakukan padaku. Lidahnya menjulur sedikit untuk menahan tawa yang akan meledak.

“Malah ketawa lagi!” Aku mulai galak padanya.

“Kenapa Ren?” seorang lagi muncul dari balik jendela itu, membawa sebuah biola.

“Tuh Me, nggak sengaja padahal!” Gadis yang bernama Ren itu menunjuk ke arahku yang masih di posisi sama. Dia menyambar langsung sampai aku tak sempat membela diri pada gadis yang satunya lagi.

“Kau—“ Seorang lagi menatapku dengan tatapan yang tak terdefinisikan, kata-katanya seakan tercekat di tenggorokan. Mungkin saja dia akan menghakimiku karena mengganggu temannya. Yah, begitulah wanita. Tanpa logika, mereka hanya suka main gertak sambal jika temannya diganggu oleh yang lain.

Seleramu oke juga, baru kali ini ada cewek pakai boxer ke sekolah.” Kata gadis itu berekspresi polos sambil meletakkan jarinya yang membentuk pistol ke dagu.

....... Yang satu ini ternyata lebih gila.

“HYAAAAAAA!!” Aku bangkit dan berlari sepanjang lorong sekolah meninggalkan dua orang gadis sinting yang baru saja kutemui itu. Kenapa sekolah ini hanya dipenuhi oleh orang-orang aneh? Kenapa aku harus berada di sini? Kenapa hidupku jadi begini?!

–––

Rezky POV

Taktaktaktaktaktak!

“Tch, Ribut sekali.”

Aku menyimpan gitar bass yang sedari tadi aku mainkan.Sebagai vokalis, aku harus latihan lebih dari anggota lain untuk mempersiapkan kompetisi band yang akan datang. Namun, suara sepatu yang berlari sepanjang lorong itu tertangkap pendengaranku. Yah, pendengaranku memang ‘sedikit’ lebih tajam dibandingkan murid lain di sekolah ini, karena itulah suara sepatu itu SANGAT MENGGANGGU!

Aku berdiri di depan ruang latihan sambil menunggu pemilik suara sepatu itu. Emosiku sudah memuncak. Ya, orang ini sepertinya cari mati denganku. Dia mungkin belum pernah merasa dihantam dengan gitar bass.

Taktaktaktaktaktak!

“hhhyyYYYYAAAAAAAA!” Seorang gadis di ujung lorong berlari sambil berteriak ke arahku.

“Hei! Bisa diam ti

Deg.

Aku terdiam sejenak, mencoba mencari file lama di arsip otakku. Orang ini, wajahnya sangat familiar. Dia melewatiku dengan mudah tanpa memperhatikan apa yang ingin kukatakan padanya.

Apa ini? Kenapa aku begitu kesal? Apa karena orang ini mengabaikanku? Apa aku kesal karena harga diriku runtuh? Atau, karena aku tidak bisa mengingat dengan cepat hingga melewatkannya?

–––

“Hah, hah, hah. Hampir saja tadi aku berurusan dengan orang aneh lainnya. Benar kata Mbah Helmi, lebih baik tidak usah kenal banyak orang supaya masalah jadi berkurang. Hah, hah, hah.” Aku mencoba menarik oksigen di sekelilingku, berusaha mengembalikan mood-ku yang hancur saat bertemu banyak orang.

Seseorang memanggilku~ ♫

Apakah kau? ♫

Hatiku berdebar ♫

Aku memikirkanmu kembali hari ini. ♫

Dua orang wanita datang menghampiriku.

Salah satu dari mereka membawa gitar accoustic sambil bernyanyi. Pipinya terlihat menonjol dan dibingkai oleh rambut curly coklat ber-ombre pink ujung-ujungnya. Seorang lagi memainkan harmonika dengan lancar di antara bibirnya. Kaca mata yang naik turun itu dia perbaiki letaknya dengan tangan kiri, sementara tangan yang lain memegang harmonika. Mereka berjalan ke arahku dengan senyuman sambil menyanyikan sebuah lagu dengan harmonisasi sempurna.

Jadi aku mengambil perasaanku yang tersembunyi ♫

Dan melihatnya ♫

I wish you, Ring My Bell~ ♫

I wish you, Ring My Bell~ ♫

Setiap kali kita bertemu ♫

Jika kau dapat mendengar suara hatiku yang berdebar ♫

Maka aku berharap kau akan memelukku tanpa kata-kata ♫

(Ring My Bell – Suzy "Miss A")

Ketika mereka menyelesaikan lagu itu, aku bertepuk tangan dan mereka mengambil posisi menunduk seperti baru saja tampil di atas panggung. Dua gadis itu tersenyum ke arahku dengan senyuman yang manis.

“Terima kasih, terima kasih.” Kata si Ombre pink.

Mereka masih menatapku sambil tersenyum, aku yang terduduk di kursi halaman sekolah kembali membalas senyum mereka. Ternyata masih ada saja orang-orang normal di lingkungan seperti ini.

10 menit kemudian...

Dua gadis itu masih berdiri di hadapanku, masih berdiri di sana dengan senyum yang manis—ah, tidak-tidak! Senyum itu mulai terasa mengerikan sekarang. Apa yang mereka tunggu?

“Anu—“

“Ya? Ya?” Sahut si Ombre pink dengan antusiasnya.

“—kenapa kalian masih di sini?”

“Uhh ahh..” ekspresi si Ombre pink mulai berubah menjadi suram, senyumnya sudah tak tersisa lagi.

“Ka-kak Minami!” si Megane mulai menguatkan si ombre pink. Apa ucapanku telah menyakiti mereka?

“E-eh? Kenapa?” Kataku sambil merasa panik.

“Harusnya kau memberikan kami hadiah atas apa yang kami lakukan...”

“Ha-hadiah apa?”

“Kau tahu? Seperti imbalan karena sudah bernyanyi di tempat umum. Kau memberikannya pada seseorang yang sudah bernyanyi karena mendengar lagu mereka. Biasanya sih dilakukan oleh laki-laki yang ada tattonya di terminal-terminal, aku melakukannya untuk memperoleh uang. Dan kau..... tidak membayar... huehuehue!”

Si Ombre mulai menangis dramatis di bahu si Megane, membuatku merasa bersalah karena tidak mengerti apa yang dia jelaskan.

“Jadi maksudnya kamu lagi ‘ngamen’?” Kataku dengan hati-hati mencoba menafsirkan apa maksudnya.

“YAAA! Sekarang bayar!” Katanya sambil menyodorkan kantong plastik chiki-chikian.

“Tu-tunggu dulu. Kenapa aku harus bayar? Aku ‘kan tidak menyuruhmu menyanyi di hadapanku. Aku hanya duduk di sini dan tiba-tiba kau menghampiriku untuk minta uang. Lagipula apa siswa di sini sangat kurang kerjaan sampai harus mengamen di tengah sekolah? Kau bisa diciduk SATPOL-PP!”

“Hah?”

BRAK!

“Ka-kak Minami, tahan kak! Jangan ngamuk di sini.” Megane berusaha menengahi pertengkaran kami.

Si Ombre pink menendang bagian atas kursi taman yang kududuki hingga hampir terjengkang ke belakang. Aku berusaha menahan kursi tersebut supaya tidak terjatuh dengan memberatkan sisi yang lainnya.

“Biar kuberitahu rasanya di-PHP-in 10 menit sama dia Cipa!” Dia mulai berlagak seperti preman yang mau mengamuk yang bersiap membanting gitarnya ke arahku, namun si Megane masih menahan gitarnya dengan kuat.

“Sudah kubilang dari awal mengamen di lingkungan sekolah adalah ide buruk.”

“Tapi dia sudah mendengarkan nyanyian kita!”

Saat mereka sibuk berdebat, aku menggunakan kesempatan itu untuk undur diri dari hadapan mereka. Aku mengambil langkah seribu sebelum mengadu kepalaku dengan gitar si Ombre pink.

Aku mengutuki diriku sendiri karena telah menganggap dua orang sebelumnya adalah entitas normal. Dua orang yang tadi lebih berbahaya daripada laki-laki yang menahanku di koridor sekolah. Mereka seperti kotak pandora terkutuk yang siap menyerang saat dibuka.

“Dia kabur, Cip!” Samar-samar kudengar suara si Ombre pink dari kejauhan.

“Ahh..Ahahaha.” Cipa mulai tertawa garing.

“Berikan gitarku!”

JRENG! JRENG!

JREEEEEEENG! ♫ ♫

LELAKI KARDUS!

LELAKI KARPET!

LELAKI KENCROT!

LELAKI BANGKRUT!

LELAKI MENCRET!

LELAKI KARBET!

LELAKI BANGCAAAAAAATT! ♫ ♫

“Gila tuh cewek...” Aku melanjutkan pelarianku dari si Ombre pink yang mengerikan, terdengar dia menyanyikan lagu berlirik aneh dari kejauhan tapi aku tidak menoleh ke belakang.

“Ta-tapi Kak, dia bukan ‘lelaki’....” kata Cipa dengan hati-hati saat Minami sedang emosi.

“Bodo, ah!”

–––

“Hah... Ya Tuhan, tolong akhiri penderitaan ini. Aku sudah tidak sanggup lagi.”

Aku meletakkan kepalaku pada sandaran pintu pagar depan asrama yang telah diperuntukkan untukku. Dari balik tembok rumah yang berukuran cukup besar itu tertulis “Asrama FUFCA”, sepertinya ini yang dimaksud dari surat dari kepala sekolah yang kuterima. Hari ini sudah cukup membuatku lelah sampai-sampai rasanya ingin tidur saja. Aku sudah berlarian sekeliling sekolah yang sangat luas ini untuk melarikan diri dari makhluk-makhluknya. Mungkin yang membuat kehidupan di sekolah ini berat bukan karena latihannya, tapi karena adaptasi dengan murid-muridnya yang aneh bukan main.

Aku memutuskan untuk beres-beres barangku yang sudah dikirim pagi ini. Pagar depannya yang berkarat terlihat seperti ingin rubuh. Aku mulai mengira asrama ini adalah asrama angker yang biasa ada di film-film, kemudian aku akan menjadi tokoh utama dan menyelamatkan dunia. Ah, sudahlah. Khayalanku mulai kemana-mana.

Ting Nong.

Aku menekan bel yang ada di pintu utama asrama. Tak ada jawaban.

Ting Nong.

Saat kutekan untuk kedua kalinya, masih tidak ada jawaban.

Ting Nong. Ting Nong. Ting Nong!

Aku menekannya beberapa kali hingga kehilangan kesabaran.

Cklek.

Pintu mulai terbuka dari dalam.

“Tunggu sebentaaaar, eh—“

“Hah?” Aku masih mengumpulkan kesadaranku ketika melihat apa yang ada di depan. Gadis yang kutemui di jendela depan sekolah.

“Arere~ kamu yang berselera aneh karena memakai boxer ke sekolah itu ‘kan?”

“Hime, semur jengkolnya udah mateng tuh— Lah, elu!“ Kata seorang lagi muncul dari dalam asrama, seseorang yang membuatku menyundul jendela kelas. Dia terkejut melihatku berdiri di hadapan asrama.

“Sepertinya murid baru yang dimaksud itu dia, Ren! Fufufufu.” Tidak berhenti sampai situ saja, dari belakang kudengar suara dua orang gadis berdebat samar-samar.

“Sudah kubilang itu bukan ide yang bagus, kita bisa masuk penyelenggara kedisiplinan kalau mengamen di sekolah.”

“Tapi ‘kan, Cipa! Setidaknya kita harus dapat uang balasan karena sudah terlanjur menyanyi di hadapannya—“

“Minami, Cipa! Nih, anggota barunya udah datang.” Kata Himeka setengah berteriak.

Aku berharap saat menengok ke belakang, aku tidak akan melihat apa yang sebelumnya aku lihat. Tapi Tuhan, apa ini adalah balasan dari dosa masa lalu yang kubuat?

“LAH! SI CEWEK KERDUS!”

Maaya, tolong kakakmu ini...

TBC-image