FANDOM


CHAPTER 1 

–––

Pagi hari itu, seorang pemuda bangun dengan malasnya karena suara dari jam weekernya dan lekas mandi kemudian bersiap-siap di kamarnya. Melihat baju putih dan celana panjang bercorak kotak-kotak perpaduan antara merah dan hitam yang casual juga tak lupa kaca mata dengan gagang merah dan lensa transparan yg memperlihatkan bulatan mata hitam ke biru-biruannya, dihadapan cermin di kamar tidurnya. Dia melihat dengan cermat dan merapikan bagian-bagian yang mungkin oleh dia terlihat kusut.

"Yups. Sudah rapih waktunya berangkat."

Dia dengan semangat seperti desiran ombak yang akan menghancurkan karang mengambil tasnya yang sudah dirapikannya jauh-jauh hari pergi menuju ruang makan.

Seperti biasanya, makanan-makanan sudah siap saji dimeja tersebut. Seperti nasi, ayam goreng, ikan rendang juga sayur mayur, dan tak lupa juga buah apel kesukaannya yang tersedia dikeranjang di tengah meja makan tersebut. Dia kemudian duduk secara kalem, lalu mengambil makanan yg ada di meja makan tersebut dengan dan makan dengan khidmatnya.

"Nak, ayo cepat makannya nanti kesiangan lho."

Dia minum kemudian tersenyum pada sosok wanita separuh baya dengan rambut cream yang dipotong pendek sebahu dan pakaian kantor berwarna ungu mudanya itu, yang melambangkan wanita yang penuh kegigihan dan keuletan dengan mata hijau yang memperlihatkan keanggunan yang tak lain adalah ibunda tercinta.

"Iya, bu. Kalau begitu, aku berangkat dulu, ya."

Dengan santun dia mencium tangan ibunya kemudian mengenakan tasnya menuju pintu dan lekas berangkat.

–––

Oh iya, aku belum mengenalkan namaku.

Namaku adalah Tio Kurnia.

Aku lahir di kota Apolon. Aku memiliki rambut lurus pendek berwarna biru dan juga memakai kacamata berwarna merah d bagian gagangnya dan lensa berwarna transparan. Dan karena suatu hal yang tak mau kuungkit, atau karena suatu sebab yang akan menyakitkan hati bila aku ingat, aku pindah ke kota ini, ya kota kelahiran ibuku, Zakarna.

Kota ini sama seperti kota tempatku tinggal dulu yang penuh dengan hiruk pikuk perkotaan, dimana mobil hilir mudik silih berganti dan orang-orang yg berlalu lalang kesana kemari.

Tapi, yang membedakan disini, banyak sekali gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi yang seakan seperti roket yang siap meluncur ke angkasa. Mungkin karena kota ini termasuk kota central untuk para pebisnis.

Aku berjalan dengan agak cepat--setengah berlari menyusuri jalan untuk pejalan kaki dan tak terasa aku sudah tiba di depan gerbang sekolah baru ku ini. Ya, gerbang sekolah dari "SMA FUFCA Academia". Gerbang ini memiliki bentuk yang terbilang unik, dengan di bagian sisi kiri dan kanan memiliki ornament bebentuk logo yang berbeda. Di kiri berlogo icon penguin, sedangkan di kanan seperti gambar icon mangapyang aku pun tak mengerti mungkin si pendiri sekolah ini punya nilai eksentrik yang tinggi atau ingin menjadikan icon tersebut sebagai maskot mereka.

–––

Aku perlahan masuk dan mulai berjalan melewati gerbang tersebut. Tuk pertama kalinya, aku menginjakan kakiku di academia ini.

Bangunan sekolah ini sama seperti sekolah pada umumnya. Tapi yg menjadi pembeda, gedung ini memiliki 5 lantai dan fasilitas yang komplit dan desain bangunan futuristik.

Mataku tak hentinya memandang ke kiri dan ke kanan, melihat keindahan infrastruktur bangunan ini yang dipadukan dengan taman bunga di bagian kanannya dan di kirinya terdapat gedung olahraga yang serbaguna.

Tanpa basa basi lagi aku masuk ke dalam gedung itu dan menyusuri koridor, untuk bertanya pada seorang murid laki-laki disisi ruang kelas lantai pertama, untuk menanyakan ruang guru berada di sebalah mana padanya.

–––

Setelah mengetahui informasi darinya, aku bergegas pergi menuju ruang guru. Tapi, tanpa aku duga, seseorang berlari dengan kencangnya dan menabrakku– yang membuat aku dan dia terjatuh.

Dengan memegangi punggungku yang lumayan sakit, aku melihat dia yang terjatuh sama denganku yang ternyata seseorang itu adalah seorang gadis yang kalau dilihat dengan seksama, berumur sama denganku.

Dia memiliki rambut kuning keemasan yang diikat dua, dan disetiap ikatanya dipasangi pita berwarna merah yang nampak anggun dengan mata kuningnya.

Tanpa meminta maaf dan hanya memasang wajah tampang tak berdosanya, dia langsung berdiri dan mulai berlari kembali menaiki tangga menuju lantai selanjutnya. Aku hanya bisa mengerang menahan rasa sakit dipunggungku dan mencoba untuk berdiri dan tanpa diduga, ada untaian tangan yang disodorkan ke arahku.

"Hei.. kamu tidak apa-apa, 'kan?"

Aku secara reflek langsung berdiri.

"Ti-tidak apa-apa kok... Ano... Miss... Eh, senpai... Eh, sensei..." dengan gelagapan dan senyum yang aku paksakan, aku menjawab seperti itu.

"Panggil saja aku Aya. Kisaragi Aya." dia dengan lantang menyebutkan namanya, disertai senyumannya yang membuat dadaku berpacu dengan kencang dan seakan ingin meledak.

"Oh. Kalau begitu, kamu juga bisa panggil aku Tio. Tio Kurnia, itulah namaku." aku memperkenalkan diriku kepada gadis itu.

TBC-image