FANDOM


CHAPTER 2 

–––

Tiga hari berselang setelah kejadian itu, kejadian yang membuat dadaku ini cenat-cenut tak karuan. Awal perjumpaanku dengan gadis itu. Gadis yang tidak lain adalah Kisaragi Aya, atau lebih tepatnya Aya-senpai.

Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan sedikit gemuk dengan rambut abu-abu dan mata coklatnya, menepuk bahuku. "Hoi, Io. Pagi-pagi gini, apa yang kamu lamunkan?"

"Oh, kau, Pul. Tidak ada apa-apa, kok." kataku padanya, yang tidak lain adalah Japul.

Japul ini adalah teman sekaligus sehabat pertamaku di FUFCA Academia, dan hal yang aku suka darinya sebagai teman, mungkin karena kebaikannya. Walau terkadang dia ini telminya minta ampun, tapi meski begitu, dia adalah orang kedua yang aku jumpai setelah Aya-senpai.

Tiba-tiba, terlihat seorang wanita berambut ungu cerah masuk kelas kami. Wanita itu memakai pakaian dinas berwarna hitam dan bluse putih di dalamnya, juga rok hitam. Ia juga memakai kacamata hitam dan bola mata berwarna ungunya dapat terlihat dari lensanya. Ia adalah Yuki Seijirou, atau biasa dipanggil "Juki-sensei" oleh para murid disini.

Seketika para murid pun duduk dibangku mereka masing-masing. Ketua kelas kami pun langsung berdiri dan memberi aba-aba, untuk mengucapkan salam kepada guru kami ini.

"Selamat pagi, Juki-sensei."

"Selamat pagi juga anak-anak." dengan senyum ramahnya, Juki-sensei membalas salam kami. Dan ia langsung mengambil buku absenan. "Oke. Sebelum belajar, kita absen dulu ya."

Dengan hati-hati dan secara teliti, Juki-sensei menyebutkan nama kami satu persatu. Dari A sampai Z. Selesai mengabsen, ia langsung memulai pelajaran.

–––

Ngomong-ngomong, kelasku terletak di lantai dua sekolah ini, dan aku berada di kelas 1C. Aku duduk di sebelah kiri, dekat dengan jendela. Entah kenapa, aku sangat menyukai kelasku ini, bukan karena kelas ini spesial atau menjadi kelas favorit. Tapi karena disini, di tempat ini, aku dapat melihat para murid dari kelas lain yang sedang berolahraga, melalui kaca jendela.

Akan tetapi, mataku bukan tertuju pada para murid itu. Tapi, pada sosok gadis berambut pink yang sedang melakukan pemanasan dan mengenakan pakai olahraga berwarna putih dengan plat merah dibagian ujung lengan pakainnya, serta bloomer pant ketatnya yang memperlihatkan bentuk indah tubuh seorang gadis muda dan ceria.

Dia adalah Aya-senpai. Bukan aku bermaksud untuk bersikap mesum atau apa. Tapi entah kenapa, mataku ini tak bisa melepaskan pandanganku darinya dan setiap melihatnya, hatiku menjadi cenat-cenut karenanya. Juga aku baru tau kalau dia adalah kakak kelasku. Hehehe.

Tapi pikiran itu pun langsung buyar seketika, karena Juki-sensei melemparkan kapur ke arahku, dan tepat mengenai dahiku ini. Aku segera melihat ke arah Juki-sensei, dan ia hanya memasang pose seperti seorang gunner dan meniup ujung telunjuk tangan kanannya dan memperlihatkan sedikit kemarahan. Kemudian ia tersenyum, dan melanjutkan pelajarannya kembali.

Beberapa murid menahan tawa mereka dengan membungkam mulut mereka sendiri menggunakan tangannya. Termasuk sehabatku sendiri, Japul, ia juga menahan tawanya.

Aku memegangi bagian jidatku yang sedikit sakit karena lemparan tadi, dan mulai serius memperhatikan pelajaran yang sedang diterangkan oleh Juki-sensei, karena aku tak mau dilempar kapur untuk yang kedua kalinya.

–––

Tom preeeeet.....!!

Bell istirahat pun berbunyi.

Para murid segera berhamburan keluar kelas. Kecuali aku dan sahabatku ini, siapa lagi kalau bukan Japul. Juga terdapat beberapa murid lainnya yang tidak keluar kelas, khususnya para anak-anak cewek, yang sedang makan bekal mereka sekaligus rumpi dan bergosip ria ala ibu-ibu PKK. Siapa lagi kalau bukan si biang rumpi, Himeka beserta para pengikutnya, seperti Odelia, Shina dan Rainny.

"Ehh, elu pada tau gak kalo Juki-sensei itu seorang fujoshi?" Himeka membuka percakapan rumpi mereka.

"Heh... yang bener nih...!" ketiga temannya itu terkejut.

"Kamu tau dari mana, kalo Juki-sensei itu fujoshi, Me-chan?" salah satu pengikutnya Himeka, Rainny, bertanya.

Kemudian Himeka menjawab, "Gw tau dari Fadda-sensei. Soalnya dia itu salah satu korbannya."

"Wow...! Awesome!" ucap Odelia, Shina, dan Rainny serempak.

Begitulah mereka, kalau sudah mulai merumpi yang tidak-tidak, dunia seakan jadi milik mereka sendiri.

–––

Aku menepuk bahu Japul, guna mengajaknya ke kantin, untuk membeli roti.

"Oke. Ayo kita pergi." setelah Japul berkata seperti itu, kami berdua keluar dari kelas dan pergi menuju kantin.

Tetapi, sesaat aku dan Japul hendak meninggalkan koridor kelas...

"Oniichan...! Hoi..oniichan, tunggu...!" dari jauh seorang gadis cantik berkacamata putih dengan rambut hitam, dan memakai seragam yang sama dengan murid disini, memanggil-manggil kakaknya, yang tidak lain adalah Japul.

Kemudian, gadis itu berhenti di depan kami berdua "Onii-chan, kamu melupakan bekalmu." dengan wajah sedikit tsun-tsun, atau malu-malu, gadis itu memberikan sebuah bekal pada Japul.

"Hoi, Pul! Siapa dia?" tanyaku pada Japul.

"Dia adalah adikku. Riska, namanya. Meski sebetulnya dia itu bukan adik kandungku." ungkap Japul. "Sudahlah... Ceritanya terlalu panjang untuk dibahas, dan karena adikku sudah membawakan bekal untukku, sepertinya aku tidak jadi untuk menemanimu ke kantin, teman." lanjutnya lagi.

"Ya sudah. Tak apa." aku membalas perkataan Japul. Aku pun kembali meneruskan perjalanku menuju kantin.

–––

Setiba di kantin, aku segera memesan roti pada ibu kantin.

"Bu, aku juga mesan rotinya. Dua, ya."

Aku mendengar suara orang di sebelahku, dan kulihat orang itu. Yang kudapati ternyata adalah seorang gadis bermata kuning keemasan, dengan rambut twintail yang memakai pita merah di sebelah kiri dan kanannya.

Gadis itu...! Yang sudah menabrakku dari belakang hingga aku terjatuh dihari pertama aku memasuki sekolah. Dan dengan wajah watadosnya itu, dia pergi begitu saja!

"Hei?! Bukannya kau gadis watados itu...!" kataku, dengan sedikit marah saat melihatnya. "Dan juga, kau punya satu hutang padaku, yaitu minta maaf!"

Dengan sedikit kaget, gadis itu pun menatapku, dengan wajah senyuman yang dipaksakan. Lalu, dia berbicara padaku, "Oke, oke. Aku minta maaf, deh, kalo gitu. Lagi pula, aku waktu itu sedang terburu-buru. Tehee~"

"Tapi setidaknya, kau bisa membantu berdiri atau apa." timpalku padanya. Meskipun dalam hati aku juga berterima kasih padamu, karena dengan kejadian itu, aku dapat berkenalan dengan Aya-senpai.

–––

Tiba-tiba, seorang gadis lain berlari dan berhenti tepat di depan kami berdua. Dengan nafas yang terengah-engah, ia berkata, "Ya ampun... M-Maaya-chan, kamu berlari terlalu cepat. Huft..."

"Lah... Kamunya saja yang terlalu lambat, Aya-tan."

DEG...!

Seketika dadaku ini langsung berdetak dengan cepat.

"Aaa..ya-senpai..." kataku dengan wajah yang sedikit merah, begitu melihat dirinya.

"Eh, Tio-kun... Kamu disini juga." kata Aya-senpai, yang menyadari keberadaanku.

"Ehh?! Kalian berdua sudah saling kenal ya?" tanya Maaya pada Aya. "Ya sudah. Ayo kita duduk disana. Tak enak juga 'kan kalau ngobrol sambil berdiri seperti ini." kemudian Maaya mengajak kami berdua duduk dibangku kantin.

–––

Kami bertiga pun duduk dan memakan roti yang sudah kami beli. Lalu mengobrol bersama.

"Ohh~ Jadi kalian saling kenal gara-gara aku, ya. Ehehe~" ucap Maaya dengan senyum watados diwajahnya.

"Ya. Itu semua gara-gara kamu, Maa. Yang tiba-tiba saja menabrakku dan pergi begitu saja. Tapi untungnya ada Aya-senpai yang berbaik hati dan menolongku." aku berkata.

"Sudahlah, Tio-kun. Maaya-chan itu memang begitu orangnya." ucap Aya-senpai. "Ngomong-ngomong, kamu sudah minta maaf ke Tio-kun belum, Maaya-chan?"

"Sudah tadi kok, Aya-tan. Ya, 'kan, Io-chan?!"

"Iya. Tadi sudah kok, Aya-senpai. Maaya sudah meminta maaf padaku." dengan sedikit malu, aku menjawab pertanyaan dari Aya-senpai.

Satu jam berlalu, bel sekolah kembali berbunyi. Kami bertiga akhirnya berpisah, dan kembali ke kelas masing-masing.

Dan entah kenapa, hati ini merasa senang. Mungkin karena aku dapat mengobrol dengan Aya-senpai, dan juga gadis watados itu, Maaya. Aku juga baru tau, kalau maaya itu satu angkatan denganku.

Mungkin ini adalah rangkaian takdir dan juga awal kisahku di FUFCA Academia ini...

TBC-image