FANDOM


ALTERNATIVE ENDING 

Setelah beberapa menit aku mengeluarkan seluruh kesedihanku dipelukan Maaya. Sesaat kemudian aku sadar dengan tingkahku. Aku merasa sangat malu dan langsung melepaskan pelukan tersebut.

“M—Maaf..” ucapku dengan nada gemetar. Sesaat aku menoleh kearah Maaya dan melihat senyuman kecilnya yang mengarah kepadaku.

“Kamu sudah tidak apa-apa, ‘kan? Io-kun?” ucap Maaya.

“Ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih, Maaya.” balasku kepada Maaya sambil menarik nafasku dalam-dalam. Aku sudah cukup lega mengeluarkannya, meski ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan.

“Syukurlah. Ayo kita pulang!” balas Maaya kembali dengan nada semangatnya.

“Ya..” balasku ditambah dengan mengangguk kearahnya.

Aku kemudian berdiri dari tempat dudukku, lalu membersihkan sisa-sisa air mata yang ada di wajahku dengan menggunakan tangan dan menghirup hingusku kedalam mulut agar tidak keluar dari hidung.

“Ayo, pulang” ucapku kepada Maaya.

“K-Kamu duluan aja, Io-kun..” balas Maaya sambil tersenyum kearahku. Ia tersenyum disertai dengan wajah pucatnya. Seketika aku sadar kalau ia memaksa dirinya untuk terlihat tegar dihadapanku. Terlihat kalau kakinya terluka akibat terjatuh saat berlari mengejarku ke arah taman. Rupanya Maaya melihat kejadian disaat aku bertemu dengan Aya-senpai dan Ipin-senpai.

“K—Kamu tidak apa-apa, M---Maaya?!” teriakku khawatir dan tanpa aku sadari kakiku berlari kearahnya.

“Ahahaha. Tidak apa-apa kok, Io-kun.” Maaya kembali memaksakan ketegarannya.

“N—Naiklah ke punggungku.. Aku akan mengantarmu pulang!” aku langsung menawarkan bantuan kepada Maaya tanpa pikir panjang.

“Tidak, ini hal yang memalukan. Aku sudah besar, Io-kun” ucap Maaya dengan wajah agak kemerah-merahan.

“Ini semua karena kamu mengejarku, ‘kan? Ayo naik kepunggungku. Hitung-hitung sebagai balasan atas kebaikanmu selama ini..” aku kembali memintanya dengan wajah yang cukup meyakinkan.

Akhirnya Maaya terbujuk oleh permintaanku, ia pun naik ke punggungku. Aku kemudian menggendongnya di punggungku sambil memegang kakinya untuk menahan tubuhnya. Tentu saja, aku dengan gagah dan berani mencoba kuat untuk mengangkatnya berjalan ke arah rumahnya.

“Ngomong-ngomong, rumahmu dimana?” tanyaku kepada Maaya.

Maaya hanya menunjukkan arah jalan menuju rumahnya menggunakan tangan kanannya tanpa berbicara sepatah kata pun. Sepertinya dia benar-benar merasa malu.

Saat itu jam menunjukkan pukul 16.47, aku tidak tahu mengapa tapi saat itu jalanan sedang sepi bahkan hanya terdengar sedikit suara langkah kakiku dan suara dedaunan yang ditiup oleh angin. Aku merasa kalau manusia sedang berada dalam kondisi nyaman di dunianya sendiri.

Diperjalan menuju rumah Maaya, aku melihat Aya-senpai berduaan dengan Ipin-senpai di salah satu tempat makan sambil tertawa bersama. Aku sudah tidak peduli, ini memang terasa sakit, tapi saat ini aku hanya memiliki satu tujuan, yaitu membawa Maaya ke rumahnya dan mengobati lukanya.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku sampai dirumahnya. Rumah yang berwarna putih bersih dikelilingi oleh pepohonan hijau dan dibatasi oleh pagar besar.

“Io-kun, bisa turunin aku sekarang sebelum ada yang melihatku?” ucap Maaya.

“Ahh, Oke. Tapi kakimu udah ga papa?” tanyaku.

“Sudah tidak apa-apa. Sisanya bisa aku urus sendiri. Terimakasih sudah mengantarku, ya. Io-kun..” balas Maaya dengan senyumannya.

Aku membalas senyumannya. Maaya kemudian masuk ke rumahnya dan sekali dua kali dia berbalik menatapku.

–––

Tujuh hari kemudian.

Hari ini adalah hari senin. Aku belum bertemu sama sekali dengan Maaya semenjak kejadian itu. Aku positif berpikir kalau dia sedang mengobati luka yang ada di kakinya.

“Tioo-kun....” seseorang menyapaku dari belakang.

Suaranya tidak asing, aku kemudian berbalik arah dan melihatnya. Ya, dia adalah Aya-senpai.

“Aya-senpai...?” balasku

“Sudah seminggu, ya...” balas Aya-senpai kembali

“Ya..” dan balasku lagi, kami tidak bisa memecah keheningan ini, biasanya ada Maaya yang mendukung di setiap obrolan kami.

“Aku ke kelas dulu, Eh saat aku ke rumah Maaya, ia terus-terusan membicarakanmu lho! Hehehe” ucap Aya-senpai dengan tawanya, yang kemudian ia berlari menuju kelasnya.

“Syukurlah, Maaya baik-baik saja..” pikirku dalam hati sambil menghembuskan nafasku tanda lega.

Aku juga kemudian pergi ke kelas. Saat berada di dalam kelas, aku melihat sahabatku yang berkilauan dengan sendirinya tepat di sebelah tempat dudukku.

“Kamu kenapa, Pul?” tanyaku.

“Bisa kamu tebak? Tebak ayo tebak.” gertak Japul.

“Ada sesuatu yang menyenangkan?” tanyaku lagi.

“Iya, io. Aku sekarang sudah melepas status jombloku yang aku pertahankan selama 16 tahun.” balas Japul dengan kilauannya.

“Ehh?? Seriusan, Pul? Sama siapa?” aku terkejut mendengar pernyataan Japul. Sahabatku yang telmi bisa menemukan seorang pacar. Oh hell yeah!

“Sama si - - - Ekh io. Aku lupa, tadi ketua kelas memanggilmu, katanya dia nunggu di depan ruangan B124. Ini udah setengah jam yang lalu... Aku lupa, secepatnya ke sana, Io!“ jawab dan perintah Japul sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ingat telminya, pul! Aduh.. Mana aku ga tau dimana ruangan B124 lagi..” jawabku lagi dengan panik.

“Aku bisa membantumu..” ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang kearah kami. Ia adalah Riska.

“Mohon bantuannya, ya” jawabku tanpa pikir panjang.

“Ikuti aku.. “ perintah Riska.

Kami bergegas pergi menuju ruangan B124 dengan suasana yang agak tegang karena sudah membiarkan ketua kelas menunggu selama setengah jam.

“Ano, Riska-chan.. Mengenai abangmu Japul yang tiba-tiba punya pacar, apa ga aneh?” tanyaku kepada Riska untuk menghilangkan suasana tegang ini.

“Kak Japul ga cocok punya pacar ya, whaha” jawab Riska.

“Ga, aku ga terima dia lebih duluan dari aku...” ucapku dengan nada kesal.

“Ngomong-ngomong, Io-san.. Aku pacarnya Japul, lho..” jawab Riska dengan tegas..

“???????????” aku kembali heboh dengan pengakuan Riska, seketika kakiku berjalan lebih cepat 2x lipat dari sebelumnya.

Setelah beberapa saat akhirnya aku sampai di depan ruangan B124, disana terlihat ketua kelas yang menunggu sambil menatap ke arah jendela.

“Aku tinggal ya, Tio-san..” ucap Riska yang kemudian pergi kembali ke kelasnya.

“Anoo...” ucapku kepada ketua kelas.

“Telat 2 jam, Tio Kurnia..” balas ketua kelas.

“Ahh, itu Japul yang ngomongnya telat, dia malah bilang baru setengah jam...” jawabku sambil menyalahkan Japul yang emang salah.

Aku belum memperkenalkan siapa ketua kelas itu, namanya adalah Rezky. Ya, Rezky Aditya.

“Kamu beruntung, Tio.. Meskipun aku berprofesi sebagai penulis cerita, dari awal aku tidak akan bisa mengubah cerita cinta kalian.. Karena dari awal dia memang sudah menyukaimu.” ucap Rezky tanpa basa-basi sembari mengungkapkan kebaperannya.

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Ini tentang Maaya.. Aku menyukainya.. Dalam debutku di cerita ini, aku bahkan tidak terlihat seperti rivalmu..” balas Rezky.

Entah kenapa, aku langsung emosi dengan kalimat yang diucapkan oleh Rezky.

“Kamu mengenalnya?” tanyaku kembali.

“Ya, aku mengenalnya. Semua tentangnya.. Secara singkat, kami kenal di luar sekolah ini, ia adalah orang yang benar-benar baik.. Mengenai aku memanggilmu disini, ada hal singkat yang ingin aku katakan kepadamu..” tegas Rezky dengan kalimatnya.

“Apa?” tanyaku kepadanya untuk memperjelas maksudnya.

“Mengenaimu dengan Maaya. Kamu terlalu memikirkan pertanyaan lain sehingga kamu tidak fokus tentang pertanyaan yang benar-benar penting yang harus kamu tanyakan.. Coba kamu pikirkan sekarang! Apa yang kamu pikirkan tentang senpaimu dan apa yang tidak kamu pikirkan tentang Maaya..” jawab Rezky.

Aku sempat kepikiran, kenapa Aya-senpai berbohong kepadaku? Kenapa ia lebih memilih untuk berkencan dengan Ipin-senpai? Tapi aku tidak pernah berpikir kenapa Maaya mau menolongku? Kenapa ia mau datang kerumahku? Kenapa ia mau berlari menemuiku?” balasku dalam hati, aku tidak bisa mengatakan hal ini karena ia mengatakan kalau ia menyukai Maaya.

“Aku perlu mengatakan ini, dia adalah anak yang baik. Di hari pertamanya, ia memaksakan diri untuk berlari secepat mungkin untuk menemuiku hanya untuk melaporkan masalah-masalah yang dialami oleh rakyat kecil. Kebetulan aku adalah anak dari kepala yayasan yang mengatur kesejahteraan rakyat kecil. Dia mungkin membaca selebaran yang telah aku berikan mengenai relawan untuk rakyat kecil.” lanjut Rezky tanpa memperdulikan balasanku dengan perkataannya sebelumnya.

“H-Hari pertama?” Aku terkejut mendengar ucapan dari Rezky. Saat itu, aku teringat kembali mengenai pertemuan pertamaku dengan Maaya. Aku dan dia bertabrakan di hari pertama masuk sekolah. Aku menundukkan kepalaku dan merasa hening... Aku kemudian menyalahkan diriku saat itu yang terkesan menyalahkan tampang tak berdosanya tanpa melihat apa yang telah ia lakukan.

“Aku sebenarnya tidak mau mengalah mengenai hal ini, Io-san. Tapi sepertinya Maaya benar-benar telah menyukaimu.” Lanjut Rezky.

Aku hanya bisa terdiam mendengar apa yang Rezky sampaikan padaku. Aku benar-benar membisu, aku tidak tahu harus apa. Karena saat itu aku sadar kalau aku salah mengenainya dan berpikir kalau Aya-senpai yang terbaik.

“Sebelum aku benar-benar menarik kata-kataku kembali, pergilah! Cari dia. Buat dindingmu terlebih dahulu sebelum orang lain benar-benar memasukinya. Hari ini ia hadir ke sekolah, dia mungkin menunggumu disana.” Tegas Rezky.

“Dia ada disekolah? T-Terimakasih...” balasku singkat.

Aku kemudian berlari sekencang mungkin untuk mencari Maaya. “Dia sudah berlari mengejarku hanya untuk menghilangkan kesedihanku. Aku harus menemukannya!” ucapku dalam hati.

Aku terus mencarinya kemana-mana. Sampai pada akhirnya, aku menemukannya di dekat gerbang sekolah. “M-Maaya!” teriakku lantang memanggilnya.

“Ini adalah tempat kita pertama kali bertemu, ‘kan? Io-kun. Tempat dimana aku menabrakmu.” Maaya mengawali pembicaraan sambil menunjukkan tempat itu.

Aku menarik nafasku dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku dan meredam kelelahanku karena sudah berlari sekuat tenaga. “M-Maaya, a-aku menyukaimu!” Dengan sedikit gagap aku mencoba mengatakannya dengan lantang.

“Ahahaha, jangan langsung mengatakan hal itu. Kenalah aku lebih jauh lagi, matangkan perasaanmu.” respon Maaya dengan sedikit candaan di wajahnya.

“E—eh? Aku tahu ini benar-benar mendadak tapi—tapi— a-aku benar-benar menyukaimu!” aku terus menegaskan hal ini.

“Ga usah sampai gitu juga kali, Io............ Sampai kamu benar-benar yakin kalau kamu memang menyukaiku. Aku akan menunggumu mengatakan hal itu lagi suatu saat nanti..” balas Maaya dengan wajah agak kemerah-merahan (lagi)

Aku tidak terlalu paham dengan maksudnya tapi aku mengangguk dengan penuh keberanian. Aku tidak tahu bagaimana tampangku saat mendengar hal itu tapi tanpa aku sadar aku telah senyum kearahnya. Ini adalah awal dari cerita cintaku. Sesaat setelah mendengar itu, aku kemudian berbalik arah dan

“Aku juga menyukaimu, Io-kun.” Tegas Maaya dengan senyumannya.

Saat itu angin tiba-tiba meniup ke arah kami yang seperti menyuruh kami agar semakin mendekat. Apakah ini merupakan sebuah takdir? Ya, ini adalah takdir. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana hal itu sebelum kita benar-benar mencoba untuk menjalaninya. Lihatlah orang yang benar-benar memperhatikamu sebelum kamu memutuskan untuk menyukai orang lain.

Mengenai kemurnian suatu cinta, aku tidak dapat berpikir apa-apa sekarang karena aku baru mencoba untuk berada diposisi itu. Awalnya cinta itu memang murni, menjaganya adalah hal yang sulit, sedikit noda akan menghilangkan kemurniannya. Jadi, saat ini aku hanya berpikir jika ada noda, aku hanya perlu membersihkannya dengan melihat kembali awal saat cinta itu masih murni.

END-image