FANDOM


Previous ChapterNext Chapter

Story


CHAPTER 1


Kutukan Hassan telah memilih Ikuto untuk menjadi tuannya.

Dengan kata lain, Ikuto lah yang akan membawa kegelapan pada dunia ini. Hassan dengan sumpah serapahnya telah mengisi hati Ikuto yang kosong dengan segala emosi paling gelap dari dunia ini. Ikuto, pria yang sudah berusia ratusan tahun namun masih berpenampakan belasan tahun. Ikuto sering bertanya pada dirinya, dengan usianya yang  tiada batas, akan seperti apakah akhir dari hidupnya? Namun tidak penting untuk bertanya hal sepele seperti itu. Kehidupan bukanlah hal yang sepenting itu. Kata abadi sendiri bukanlah hal yang mutlak ada. Karena segala sesuatu akan segera menemui akhir.



Bruk!

Seseorang menabrak Ikuto yang sedang berjalan sambil melamun. Dia melihat orang yang terjatuh di hadapannya. Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu. 'Adegan klise macam apa ini?', batin Ikuto.

"M-maap ya, kang! Nggak sengaja!"

Kata gadis itu sambil tersenyum dengan polosnya. Ikuto hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Lalu kemudian dia hanya melengos tanpa menoleh pada perempuan tersebut. Ikuto menyebrangi jalan secara sembrono tanpa peduli kendaraan yang berseliweran.

Sebenarnya tidak ada alasan untuk peduli. Mobil tidak akan cukup kuat untuk membunuh seorang Iblis. Ikuto tidak terkejut ketika melihat sebuah mobil sedan berwarna silver melaju ke arahnya. Kalau seandainya mobil sedan tersebut menabraknya maka dijamin, mobil dan pengemudinya lah yang akan tewas.

Namun yang membuat dia terkejut adalah ketika seseorang melompat kearahnya kemudian mendorongnya ke tepi jalan. Ikuto sangat terkejut ketika mendapati orang yang mendorongnya adalah gadis yang baru saja dia tabrak.

"Kamu teh kalo jalan liat-liat, jangan asal nyelonong aja! Emang kamu mau mati?!" Bentak gadis tersebut. Ikuto kemudian mengerutkan keningnya untuk mengekspresikan ketidaksukaannya atas tindakan si gadis tersebut.

"Itu bukan urusan kamu." Jawabnya dingin.

"Eh... eeeh, kamu teh ditolongin malah jawabnya kayak gitu bukannya bilang makasih."

"Apa pedulimu?"

"Nggak mesti ada alasan, kalo mau nolong orang mah. Jangan cuek gitu, atuh. Hidup teh cuma sebentar, jangan dibuang-buang gitu aja, mubazir!"

Si gadis tersebut tiba-tiba meringgis kesakitan, ternyata ada luka lecet di lutut dan siku nya.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ikuto.

"Pake nanya lagi, ya kenapa-napa lah!"

Ikuto memperlihat ekspresi yang aneh, dia benar-benar tidak suka dengan tingkah gadis berkuncir dua tersebut.

"Apa liat-liat?!" Bentak si gadis itu lagi. 

"Kamu nggak suka aku marah-marah? Habisnya kamu sih, udah aku bela-belain nolong sampe lecet-lecet, kamunya malah jutek!"

Si gadis tersebut segera berbalik membelakangi Ikuto dan siap untuk pergi. Ikuto tidak suka dengan cara ngomong si gadis tersebut. Dia segera mengangkat tangannya untuk segera menebas leher si gadis dari belakang. Gadis tersebut mungkin akan menjadi orang kesekian ribu yang mati hanya karena membuat Ikuto kesal. Namun tiba-tiba si gadis tersebut berbalik...

"Nih, permen kopiko..."

Gadis tersebut menyodorkan sebungkus permen kecil sambil tersenyum dengan begitu ramah. Ikuto dengan canggung menerima permen tersebut.

Beberapa detik lalu Ikuto baru saja akan memenggal leher si gadis itu, sekarang dia berdiri bengong sambil melihat sebungkus permen di tangannya.

Lalu gadis itu segera berlari menjauhi Ikuto, setelah beberapa puluh meter si gadis itu berbalik lagi kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Itu adalah senyum paling indah yang pernah Ikuto lihat dalam ratusan tahun hidupnya...