FANDOM


– CHAPTER 1: Anyone Can Do It 

Di suatu tempat di Fufcarient tepatnya Wind Forest ada sebuah rumah yang kabarnya merupakan rumah dari pendekar sangat ahli nan kuat. Terlihat dua orang anak muda berlatih dengan giatnya terkadang mereka bertarung untuk mengasah kemampuan. Kedua orang itu adalah kakak-beradik anak dari pendekar tanpa nama misterius yang terkadang dibicarakan orang. Si kakak terlihat sangat cakap memainkan pisau runcing, begitu lihainya gerakan itu terasa sangat mudah dilakukan.

Luka-luka sayatan disekujur tubuhnya menandakan bahwa ia telah melewati banyak pertempuran, mata tajamnya selalu tepat membidik sasaran dengan pisau yang dipegangnya walau dari arah manapun, walau dengan gaya apapun, sasarannya selalu tepat. Si adik terlihat masih dalam proses belajar dan sering melakukan kesalahan.

Sejak kematian ayah mereka, sang kakaklah yang menjadi pelatih adiknya dengan gaya tidak beda jauh dengan pendahulunya. Si kakak sepertinya telah mewarisi semua ilmu dan keahlian bahkan mengembangkan berbagai tekniknya sendiri.

Pagi itu, keduanya berencana untuk berburu buronan ke black mountain. Ya, mereka merupakan keluarga pemburu buronan atau assasin yang sangat disegani oleh pemerintah Royal Palace sekalipun. Misi tersebut merupakan misi pertama bagi si Adik. Kali ini mereka mengejar bandit pencuri ramuan rahasia milik Lady Mihoshi.

Misi yang terlihat biasa namun tidak bagi Igor, walaupun Mihoshi mengungkapkan teledor telah tertipu tapi untuk sekelas penyihir Mihoshi mencuri ramuan itu bukan hal yang mudah bagi sembarang orang belum lagi pencuri itu menuju arah Black Rock Mountain dimana terdapat banyak monster berbahaya. Orang ini pasti memiliki ambisi dan kekuatan berbahaya hal itulah yang ada dipikiran Igor.

Namun karena Djiko terus memaksa ikut, membuat Igor tak ingin mematahkan semangat adiknya. Ditambah lagi misi ini langsung datang dari utusan Royal Palace yang sepertinya banyak prajurit sibuk mengamankan wilayah lain Fufcarient sehingga sampai meminta bantuan igor. Hal ini sudah sering terjadi, bukan karena kekuatannya yang hebat namun dalam hal mencari informasi igor merupakan orang yang tepat. Dari keterangan Lady Mihoshi ramuan yang dicuri adalah racun delusi yang penawarnya saja sudah tidak ada. Hal itu memperjelas niat buruk pencuri yang bisa membahayakan banyak orang.

Senyum kecil Igor menandakan tantangan menarik yang mungkin akan dia temukan di misi kali ini apalagi adiknya juga ikut bergabung. Ia ingin melihat sejauh apa ilmu yang dia ajarkan merasuki diri Djiko. 

Setelah menyusun rencana dengan matang merekapun berangkat. Beberapa kali mereka harus berhadapan dengan monster tapi tak ada masalah. Semua monster diusir oleh Djiko dengan mudahnya. Igor hanya mengamati saja layaknya bos yang mempekerjakan anak buah. Semakin dekat dengan buronan Igor mencium bau tak biasa, benar saja dua ogre petir bermata satu mondar-mandir didepan lembah. Tidak ada jalan lain kecuali menyingkirkan keduanya. Untuk menyingkirkan satu ogre dibutuhkan setidaknya 10 prajurit terlatih, namun dengan strategi dan kekuatan Igor hal itu tak menjadi masalah.

Dipancingnya salah satu ogre ketempat agak jauh lalu menghabisinya dengan sekali serangan fatal tepat ke leher musuh. Sementara Djiko mengamati dengan seksama karena baru kali ini ia melihat ogre petir. Tak mau kalah, Djiko pun berinisiatif melawan ogre kedua sendirian tentu sang kakak mendampingi dari dekat.

Djiko mengendap menghilangkan bayangan, nafas, dan suara, sekejap ia sudah membelakangi ogre petir ditancapkan pisau tepat dileher ogre itu. Terpencar energy listrik dari seluruh badan ogre, ternyata serangan Djiko tak tepat memutus kerongkongan ogre. Djiko terhempas berguling-guling dibawah lembah, Ogre buas itu melompat menukik kearah Djiko dengan kekuatan listriknya membakar sebagian besar area itu.

Namun Igor secepat kilat melindungi adiknya membawanya keatas dahan pohon, Djiko terlihat agak shock tapi tidak terlalu luka secara fisik. Melihat ogre itu yang semakin marah menyerang kesegala arah, Igor mencoba melakukan pembalasan. Dikeluarkannya rantai, dengan cepat ia sudah melilit kaki ogre hingga tak bergerak dan perlahan-lahan terjatuh. Posisi ini memungkinkan Igor menyerang leluasa, dengan sekali tebas kepala ogre itu terlepas dari badannya, listrik yang sedari tadi menyala-nyala akhirnya padam.

Listrik itu merupakan perlindungan dari ogre petir yang membuat apapun yang menyentuhnya akan tersetrum hangus. Djiko terlihat tidak puas dengan pertarungan itu karena ia merasa kesal kakaknya ikut campur. Igor tertawa kecil dan berjanji tidak akan mencampuri pertarungannya lain waktu. Pencarian mereka lanjutkan, terlihat asap mengepul dari dalam sebuah celah batu tajam, hawa jahat terasa sangat pekat.

Bagi Igor yang sudah terbiasa berburu seolah ia memiliki indera ke 6, dengan mantap ia memastikan bahwa disitu buruannya. Mereka tidak langsung masuk karena ceruk itu begitu sempit serta terlalu berbahaya bila ada jebakan racun delusi. Yang mereka lakukan hanyalah menunggu sampai mangsanya keluar sambil menyembunyikan diri dibalik bayangan.

Matahari mulai turun tergantikan oleh sang bulan menyinari langit malam, sesosok kecil terlihat mengintip dari celah batu. “Goblin?” Cetus Djiko, benar saja ternyata itu adalah sarang goblin. Igor sedikit mengernyitkan dahi, pikirnya mungkin itu memang sarang goblin, namun naluri Igor masih mengarah jauh kedalam ceruk itu.

Goblin yang keluar semakin banyak dan tak seperti goblin biasa, para goblin itu terlihat diam dengan gerakan tak menentu seperti mayat hidup warnanya sangat pucat. “Racun!” Kata Igor, efek racun  dapat membuat orang yang terkena menjadi setengah mati dan setengah hidup sampai akhirnya benar-benar mati oleh keputusasaan dalam dunia mimpi tanpa ujung.

Racun itu sepertinya sengaja disebar diantara goblin, akan berbahaya bila goblin itu bersentuhan dengan manusia. Satu-satunya cara adalah melenyapkan semua goblin itu kemudian menemukan si pencuri sebelum terlambat. Kontak fisik bisa saja berbahaya, Igor dengan cekatan melempar pisau-pisaunya kearah para goblin dalam sekejap semua goblin itu sudah tak bernafas.

Igor memutuskan untuk masuk kedalam celah batu sementara Djiko menunggu di pintu masuk. Tak berselang lama Igor sudah keluar dari gua dan membawa tubuh seseorang dipundaknya. Pencuri itu ternyata juga terkena efek racun setelah meracuni para goblin “Bodoh sekali”, gumam Igor. Djiko menyambut Igor dengan senyuman, memang tak perlu diragukan kekuatan kakak pikir Djiko.

Tiba-tiba Djiko jatuh tersungkur, Igor yang merasa kaget langsung memeriksa kondisi adiknya. Tangan kiri Djiko melepuh kehitaman tanda racun delusi  telah menginfeksi. Salah satu dari goblin yang dibunuh Igor ternyata masih hidup dan tanpa disadari menggigit tangan Djiko dari belakang walau Djiko berhasil membunuh goblin itu namun tangannya terlanjur melepuh. Igor merasa bersalah karena telah lalai, Djiko tersenyum dan mengatakan bahwa apa yang dialaminya sudah takdir sambil mulai menggigil.

Djiko tidak ingin kakaknya terus menyalahkan diri sendiri. Tak ingin membuang waktu, dari Black Rock Mountain hingga sampai di kota Saint Haven Igor memanggul Djiko dan pencuri itu sambil mengusir monster yang menghalangi jalan.

TBC-image