FANDOM


– CHAPTER 4: Perpetual Failure 

Mengikuti insting dan nalurinya sebagai assassin, sampailah Igor di pemukiman para dark elf diantara pelosok hutan Crystal Scream. Mengintip dibalik pepohonan, para dark elf itu terlihat berdebat keras sepertinya mereka mempertanyakan keberadaan Ocuria.

Bagi dark elf murni adanya half dark elf merupakan suatu kutukan bahkan setiap kelahiran dark elf pria selalu berakhir dengan pembunuhan. Sehingga sulit diterima mengapa Ocuria bisa terlahir di dunia. Beberapa dark elf mulai menyiapkan perapian besar ada pula yang memasang tiang panjang, “Sudah diputuskan rupanya.” gumam Igor mengartikan bahwa hukuman yang akan diterima Ocuria adalah pembakaran hidup-hidup.

Sambil menunggu saat yang tepat, Igor memperban luka-luka yang sedari tadi terus meneteskan darah dan ternyata lebih parah dari bayangan Igor. Putri Ocuria diarak keliling perapian kemudian diikat tepat diujung tiang di atas perapian itu, dark elf Maaya sebagai pemimpin membacakan mantra mistis dengan membawa obor lalu menyulut api. Teriakan Ocuria terus memanggil nama orang-orang yang dikasihinya, kakeknya, pelayan, Ibu dan ayah yang belum ditemui serta tentu saja Igor.

Asap mulai mengepul, Igor pun melompat keatas tiang itu tanpa terlihat oleh dark elf karena tertutup asap, sekelebat bayangan keluar dari perapian itu dan putri Ocuria menghilang. Betapa terkejut bukan kepalang para dark elf, ada yang ketakutan karena kutukan dewa, ada pula yang mengendus gerak-gerik Igor.

Dark elf Maaya langsung memerintahkan seluruh pasukannya menyebar mencari Igor dan Ocuria. Tak mudah bagi Igor bergerak cepat sambil membawa Ocuria disaat dirinya terluka, keseimbangannya terganggu saat meloncat ke salah satu tebing dan mereka berdua terpental jatuh.

Malang nasib Igor, kepalanya terantuk batu curam dan membuatnya terluka sedangkan Ocuria beruntung terjatuh ditumpukan belukar. Dark elf Maaya bersama pasukan akhirnya menemukan mereka yang sudah tidak berdaya, putri Ocuria berusaha melindungi Igor yang kesakitan walaupun dirinya sendirilah yang menjadi incaran. Sadar akan hal itu putri Ocuria menyerahkan diri, namun Igor menarik tangan Ocuria dan terpaksa harus berhadapan dengan semua pasukan dark elf.

Walaupun Igor sangat kuat, namun fisiknya juga terbatas serbuan seluruh pasukan dark elf membuatnya hampir kehabisan nafas untuk melindungi dan menyerang sekaligus. Keadaan semakin bertambah mendesak, Igor yang tadinya cukup lincah kini tak berdaya ditangan puluhan dark elf, tubuhnya penuh luka sampai bermandikan darahnya sendiri. Ocuria menangis dan memohon belas kasihan para dark elf namun tak ada yang menghiraukan.

Maaya menghampiri Igor dengan membawa sebilah tombak, dilemparkan tombak itu tepat kearah Igor. Namun takdir berkata lain, darah malah menetes dari dada Ocuria, melihat hal itu di depan kepalanya sendiri membuat Igor terpaku. Dalam hidupnya tidak pernah ada orang yang sampai mengorbankan nyawa demi dirinya malah Igor lah yang sering berkorban untuk orang lain.

Pengalaman itu terasa baru dan mengoyak hatinya melebihi luka-luka yang pernah ia derita. Ia tak mengerti mengapa hatinya begitu perih padahal membunuh adalah hal biasa baginya dan Ocuria hanyalah salah satu bagian dari misinya. Di dekapnya Ocuria dengan erat, terpasang senyum lirih diwajah Ocuria dengan terbata-bata ia membisikkan sesuatu.

“Hei tuan Igor

Aku sangat ingin bertualang denganmu

Apakah anda tahu

Masih ada naga diluar sana

Hei tuan Igor

Bila aku adalah manusia

Maukah anda terus disampingku?

Hei tuan Igor

Apa anda mendengarku?”

.....


“Aku mendengarmu bertahanlah sebentar lagi kuil Ancient sudah dekat kau ingin menjadi manusia seutuhnya bukan? Ocuria! Ocuria! OCURIAAAAA!!!”

Tak tertahankan air mata Igor pun menetes jatuh bercampur peluh dan pekat darah. Desir angin yang entah datangnya darimana menghembus keras di sekeliling mereka. Para dark elf merasakan tanda buruk, mereka meninggalkan Igor dan Ocuria begitu saja. Karena luka yang terlalu parah Igor tak sadarkan diri berdampingan dengan tubuh Ocuria yang sudah tidak bernyawa. 

Keesokan harinya, Igor memaksa untuk melanjutkan perjalanan sambil membopong jasad Ocuria. Tepat tengah malam pada hari ke tujuh perjanjian Prof K,  sampailah Igor bersama jasad putri Ocuria yang nampaknya masih bersih bagaikan baru saja menyucikan diri. Tak terlihat sedikitpun pucat diwajahnya, rona kehidupan masih terpancar jelas sampai-sampai Prof.K mengiranya tertidur. Prof.K dengan ramah menerima Igor dan sedikit terkejut atas apa yang dibawa oleh Igor yaitu half dark elf namun sayangnya sudah tak bernyawa lagi.

Melihat kondisi Igor yang penuh luka Prof.K pun menawarkan perawatan, dipanggilnya salah satu pelayannya yaitu Himecha seorang robot pembantu berperawakan nona cantik. Sambil dirawat, Igor menceritakan bagaimana perjalanannya menemukan Ocuria hingga terbunuh ditangan dark elf Maaya di hutan Crystal Scream. Setelah menceritakan hal itu, Igor menanyakan kabar adiknya, Prof.K terkekeh girang.

Ternyata racun yang menimpa Djiko sudah pernah diteliti olehnya serta untuk membuat penawar adalah hal mudah dan kini Djiko sedang dalam masa penyembuhan secara intensif. Kabar gembira itu sejenak membuat Igor melupakan penderitaannya.

Igor bertanya, mengapa Prof.K mencari half dark elf dan apakah ia akan membuat percobaan liar pada tubuh Ocuria. Prof.K ternyata sedang mengumpulkan spesimen-spesimen mahluk Fufcarient dan half elf merupakan salah satu spesimen yang sangat sulit untuk dicari, tubuh Ocuria akan dimumifikasi dan dipasang diruang khusus bersama jasad mahluk lainnya. Untuk eksperimen yang akan dilakukan, Prof.K masih belum memikirkan hal tersebut mungkin suatu saat nanti ia mengambil sampel DNA atau membuat mahluk baru dari gabungan beberapa sample. Igor meminta Prof.K untuk merawat dengan baik jasad Ocuria.

Aneh sekali,” gumam Prof.K yang berpikir bahwa tidak biasanya seorang assassin memperhatikan korbannya. “Khe khe khe apakah kau menyukainya?” Tanya prof K.

“Tidak. Aku hanya berhutang budi padanya, tanpa kematiannya, ku tak akan berhasil menyelamatkan Djiko, bahkan diriku sendiri.” Jawab Igor dengan mata sayu, Prof. K tertawa sambil berlalu.

Keesokan pagi, suasana di Lab begitu panas, Djiko yang sudah mulai pulih tiba-tiba melabrak Igor diruang perawatannya. “Apa yang telah kau perbuat kepada Ayah?!” Bentak Djiko dengan penuh amarah.

Igor kaget dengan apa yang adiknya tanyakan, “Apa maksudmu, adikku? Tenanglah. Aku tak melakukan apapun pada ayah.”

“Pembohong! Kaulah yang telah membunuh ayah, bukan?”

Igor terdiam. Otaknya berpikir keras apa yang sebenarnya dipikirkan Djiko.

Djiko menjelaskan bahwa Prof.K memberitahunya jika Igor-lah orang yang bertanggungjawab atas kematian ayahnya. Igor dengan tegas menyangkal hal itu dan mengatakan kalau Prof.K hanya bercanda atau membual.

Namun semua pembelaan Igor pupus setelah Prof.K memperlihatkan bukti yang akurat, ia membawa mayat ayah mereka yang sudah dimumifikasi dan terdapat pisau kesayangan Igor menancap dimata kiri jasad Jeffry. Prof.K dengan senyum licik menjelaskan kronologis kejadian pembunuhan mengerikan tersebut.

TBC-image